DSAK IAI Keluarkan Sekaligus Delapan Exposure Draft PSAK

DELAPAN exposure draft (ED) sekaligus disajikan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia (DSAK IAI) kepada publik, kemarin. Melalui public hearing yang digelar di Hotel Aryaduta, Jakarta, DSAK IAI ED merilis revisi PSAK 1, 4, 15, 24 dan PSAK 65, 66, 67, 68.

ED PSAK 65 adalah adopsi dari IFRS 10: Consolidated Financial Statementper 1 Januari 2013. ED PSAK 65 mengatur laporan konsolidasian yang sebelumnya diatur dalam PSAK 4 (2009). ED PSAK 65 memberikan definisi pengendalian yang baru, yaitu entitas harus mempunyai kekuasaan atas investee, eksposur atau hak terhadap imbal hasil variabel, dan kemampuan menggunakan kekuasaannya atas investee untuk mempengaruhi imbal hasil investor.

Dampak signifikan ED PSAK 65 antara lain entitas dengan hak suara kurang dari 51 persen dapat mengendalikan investee (pengendalian de facto), hak suara bukan faktor dominan (entitas terstruktur), hak suara potensial yang dapat dipertimbangkan adalah yang bersifat substantif, hubungan keagenan untuk manajer investasi/aset (principal vs agen), dan entitas investasi yang dikecualikan dari konsolidasi.

ED PSAK 66 mengklasifikasikan pengaturan bersama menjadi dua yaitu operasi bersama dan ventura bersama. Klasifikasi tersebut didasarkan pada hak dan kewajiban yang diperoleh para pihak dalam pengaturan bersama. PSAK 66 ini merupakan adopsi dari IFRS 11: Joint Arrangement per 1 Januari 2013.

Selanjutnya, ED PSAK 67 yang merupakan adopsi dari IFRS 12: Disclosure of Interests in Other Entities per 1 Januari 2013 merupakan standar baru yang menggabungkan persyaratan pengungkapan untuk entitas yang mempunyai kepentingan dalam entitas lain. ED PSAK 67 mensyaratkan entitas untuk mengungkapkan informasi yang memungkinkan para pengguna laporan keuangan untuk mengevaluasi sifat dan resiko yang terkait dengan kepentingannya dalam entitas lain dan dampak dari kepentingan tersebut terhadap posisi keuangan, kinerja keuangan dan arus kas entitas.

Adapun ED PSAK 68 yang diadopsi dari IFRS 13: Fair Value Measurement per 1 Januari 2013 memberikan definisi nilai wajar (fair value), menetapkan suatu kerangka pengukuran nilai wajar, dan mensyaratkan pengungkapan pengukuran nilai wajar. Untuk PSAK yang saat ini menggunakan definisi nilai wajar nantinya akan mengacu ke ED PSAK 68 sebagai acuan tunggal untuk pengukuran nilai wajar.

Entitas yang terkena dampak ED PSAK 68 adalah entitas yang mengukur aset tetap dengan metode revaluasi, entitas yang mengukur properti investasi dengan metode nilai wajar, entitas yang mengukur aset tak berwujud dengan metoda revaluasi, dan entitas agrikultur yang pada saat IAS 41 Agriculturesudah diterapkan akan mengukur aset biolojiknya dengan menggunakan nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual.

Sementara itu, empat ED lainnya merupakan revisi dari PSAK sebelumnya. Dalam ED PSAK 1: Penyajian Laporan Keuangan terdapat dua tambahan pengaturan baru yaitu mengenai informasi komparatif dan penyajian penghasilan komprehensif lain. ED PSAK 4: Laporan Keuangan Tersendiri perlu dilakukan perubahan sebagai dampak dari diadopsinya ED PSAK 65: Laporan Keuangan Konsolidasian.

Selanjutnya, ED PSAK 15: Investasi pada Entitas Asosiasi dan Ventura Bersama perlu direvisi sebagai dampak dari diadopsinya ED PSAK 66: Pengaturan Bersama. ED PSAK 15 ini diterapkan oleh seluruh entitas yang merupakan investor dengan pengendalian bersama atau mempunyai pengaruh signifikan atas investee.

Yang terakhir, ED PSAK 24 (2013): Imbalan Kerja menghapus opsi pengakuan keuntungan dan kerugian aktuarial dengan pendekatan koridor dan sebaliknya mensyaratkan pengakuan segera melalui penghasilan komprehensif lain. Selain itu, ED PSAK 24 memberikan perubahan pengaturan mengenai bunga neto atas kewajiban (aset) imbalan pasti neto, biaya jasa lalu, dan modifikasi pengungkapan, imbalan kerja jangka pendek, dan pesangon.

 “Kami sangat mengharapkan masukan dari masyarakat atas delapan exposure draft yang sudah kami sajikan hari ini,” ujar Ketua DSAK IAI, Rosita Uli Sinaga. Tanggapan atas ED PSAK tersebut dapat disampaikan ke email dsak@iaiglobal.or.id atau iai-info@iaiglobal.or.id paling lambat 27 September 2013.Acara public hearing kali ini yang diikuti dengan acara buka puasa bersama Dewan Pengurus Nasional IAI dihadiri oleh sekitar 200 peserta dari berbagai kalangan. Dalam kesempatan itu, Rosita sekaligus menyampaikan laporan perkembangan konvergensi IFRS di Tanah Air. Antara lain, ia mengungkapkan bahwa revisi SAK berbasis IFRS 1 Januari 2009 menjadi per 1 Januari 2014, yaitu revisi IAS 1, 19, 27 dan 28 telah disahkan menjadi ED PSAK 1, 24, 4, dan 15 yang akan berlaku efektif 1 Januari 2015.

Rosita juga menegaskan komitmen DSAK IAI untuk terus aktif berpartisipasi dan berkontribusi dalam forum regional dan international, serta aktif mengangkat isu akuntansi Indonesia untuk didiskusikan di forum regional dan internasional. Saat ini, Dewan Standar Akuntansi Keuangan aktif ikut serta dalam forum Asian-Oceanian Standard Setter Group (AOSSG), Emerging Economies Group (EEG), International Forum of Accounting Standard Setters (IFASS), dan World Standard Setters (WSS).

This entry was posted in Artikel. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s